2010/06/28

Secrets of Color in the entire series Power Rangers


       Warna adalah unsur yang sangat tajam untuk menyentuh kepekaan penglihatan sehingga mampu merangsang munculnya rasa haru, sedih, gembira, mood atau semangat dan lain sebagainya. Secara visual, warna sedikit banyak memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi cara orang untuk melihatnya. Bahkan masing-masing warna seperti merah, kuniang, biru dan lain sebagainya, mampu memberikan respons secara psikologis. Dan meskipun belum bisa dipastikan  dari sudut pandang sains, tetapi pada umumnya warna akan memiliki pengaruh atau sifat yang berbeda didalam aspek kehidupan manusia termasuk juga dari personalitinya. Bahkan dalam lingkungan gerakan Pramuka sering dikenal beberapa warna termasuk arti warnanya. Warna yang memiliki arti kiasan sangat membantu dalam menciptakan sebuah gambar agar lebih bermakna dan memberikan motivasi bagi penggunanya. Warna juga menjadi alat untuk mengungkapkan ekspresi.Semua orang menyukai warna karena pengaruhnya pada kejiwaan seseorang. Bahkan dari membeli pakaian hingga memilih makanan, warna menjadi faktor penting yang selalu dipertimbangka. Manusia hampir tidak dapat terlepas dari ketertarikan tertentu terhadap warna sehingga selalu dipakai orang di semua segi kehidupan. Oleh karena itu, hal ini dapat membuktikan bahwa warna benar-benar menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan manusia. 

Sepak terjangnya dimulai dari tahun 1990-an. Memiliki kostum dari 5 warna yang berbeda yaitu merah tua, merah muda, hijau, kuning, dan biru. Kemunculan ranger hijau  terjadi di episode sebelum tamat. Power Rangers muncul sebagai sekelompok pahlawan atau hero pembela kebenaran yang selalu berhadapan dengan musuh-musuh yang terlihat ganas. Personel Power Rangers sebagian besar digambarkan masih bersekolah tingkat sekolah menengah atas hingga tingkat universitas. Karakter anak-anak muda yang aktif, dinamis dan pemberani.
Serial Power Rangers hidup hingga belasan tahun. Dimulai dengan serial Mighty Morphin sebagai seri 1 Power Rangers dan diikuti dengan Dino Thunder, Galaxy, Space, Rescue, Mystic Force, Ninja Storm, Operation Over Drive, SPD, Time Force, Turbo, Wild Force, Zeo dan yang terakhir Jungle Fury. Secara keseluruhan, seri-seri tersebut memiliki karakteristik personel yang tak jauh beda walaupun secara konsisten, pemain-pemain atau aktor dibalik topeng personel Power Rangers adalah orang-orang yang berbeda. Bahkan datang dari berbagai belahan dunia yaitu orang kulit putih, kulit hitam dan orang Asia.
Hal menarik yang datang dari serial Power Rangers ini adalah warna-warna seragam yang dipakai oleh anggota Power Rangers. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa warna-warna yang sering digunakan adalah warna merah, biru, hijau, kuning dan pink. Dan lebih menariknya adalah warna-warna ini kemudian menjadi penentu karakter yang dimiliki masing-masing personel dan menjadi nama identitas personel yaitu Ranger Merah, Ranger Biru, Ranger Hijau, Ranger Kuning dan Ranger Pink. Tak hanya berhenti menjadi nama identitas, warna inipun membentuk porsi anggota dalam keseluruhan cerita.
Merah adalah warna yang dikenal menyiratkan keberanian dan inilah yang kemudian selalu menjadikan Ranger Merah seorang pemimpin selama kurang lebih 18 tahun masa Power Rangers beraksi di layar televisi dan film. Ranger Merah juga diartikan sebagai karakter yang dinamis, perhatian dan penyuka wanita. Sedangkan warna merah sendiri melambangkan agresifitas tinggi, sangat aktif, berkemauan keras, dipenuhi gairah dan dominasi yang kuat. Inilah yang semakin menyempurnakan posisi Ranger Merah sebagai garda depan pasukan Power Rangers. Karakter ini juga menjadi sosok yang sangat dipercaya untuk mengambil keputusan dan tindakan yang berulang kali menentukan hidup mati rekan-rekan atau sang korban yang sedang diganggu oleh musuh Power Rangers.
Ranger biru menjelma menjadi karakter Ranger yang memiliki ketenangan paling sempurna. Warna biru sendiri memiliki kesan yang dapat menenangkan di denyut nadi, tekanan darah, pernafasan serta membantu didalam meningkatkan kesehatan diri. Oleh karena itu, Ranger biru mengesankan orang yang memiliki kesetiaan yang tinggi, disamping kentalnya ketekunan dan ketabahan.                                                      
Melambangkan adanya suatu ketabahan, keinginan namun keras hati adalah warna hitam. Oleh karena itu, Ranger Hitam memiliki pribadi yang keras dan dominan/berkuasa. Inilah yang menyebabkan, Ranger Hitam sering bentrok dengan karakter yang dimiliki Ranger Hitam. Tetapi warna ini bisa meningkatkan rasa bangga karena biasanya sering menjadi pilihan untuk mendapatkan nasehat. Warna hitam secara keseluruhan melambangkan keagungan, kesejahteraan, kebijaksanaan dan kecerdasan dan ini yang ditonjolkan Ranger Hitam dalam setiap aksinya.
Ranger Kuning mengartikan sosok yang memiliki sifat spontan. Selain itu, Ranger Kuning juga identik dengan toleransi yang sangat tinggi. Selain itu, warna kuning melambangkan kejayaan, kebesaran dan keemasan. Ranger Kuning sendiri begitu menonjol tetapi berubah-ubah sikap, suka berharap dan dermawan.
Warna feminin selalu dimiliki oleh warna merah muda dan tidak heran jika posisi ini selalu memakai karakter wanita. Oleh karena itu, Ranger Pink selalu dipasangkan dengan Ranger Merah dan seringkali menjadi pasangan yang sangat serasi. Ranger Pink digambarkan menjadi sosok yang romantis, lucu dan selalu rapi. Warna pink sendiri selalu diidentikkan dengan karakter wanita dan karena itu wanita seringkali memilih warna pink untuk pernak-perniknya.

Selain itu, dalam seri Power Rangers juga sering ditambahkan dengan warna-warna yang lain, walaupun warna-warna di atas selalu saja menjadi tokoh utama. Warna lain itu adalah hijau, putih, dan lain sebagainya. Hampir di semua seri, warna-warna seperti merah, biru, hitam, kuning dan pink selalu memiliki karakter yang sama. Ranger Merah yang selalu jadi sosok pemimpin dan diikuti oleh warna-warna lainnya. Power Rangers seolah tidak pernah melepas formasi ini untuk digunakan selama belasan tahun. Decision Maker dari Power Rangers sendiri memang secara konsisten tidak pernah meninggalkan adat yang dimiliki dengan fokus yang paling terlihat adalah pola hubungan antar Ranger yang memang selalu sama. Misalnya saja, Ranger Merah yang selalu mendominasi, hubungan khusus Ranger Merah dan Ranger Pink, Ranger Kuning yang selalu digambarkan dengan wanita yang tomboi, Ranger Hitam yang sama keras dengan Ranger Merah, dan juga Ranger Biru yang selalu terlihat dewasa.
Pemilihan warna yang dipakai memang sesuai dengan target penontonnya yaitu anak kecil hingga usia remaja. Warna yang cherrfull, colorfull, dan dominasi berbagai macam warna yang dipadu memang sangat kental dengan nuansa yang semarak dan dinamis. Namun, jarang ada orang yang memperhatikan pola warna yang dimiliki serial Power Rangers ini. Walaupun Ranger Merah hampir selalu diagungkan dengan posisi berdiri selalu di tengah atau di depan dan memperoleh porsi lebih dibandingkan ranger yang lain. Warna yang dipakai Power Rangers ini memang tidak secara langsung dapat diartikan oleh penontonnya. Hanya saja, pentonton biasanya akan dapat langsung menebak, pemimpin Ranger siapa, musuhnya siapa dan bagaimana cara menangkal musuh.

Sumber :
Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar Desain Komunikasi Visual. CV Andi Offset. Yogyakarta

2010/06/19

THE RANGERS GOES TO PURWOKERTO


Stasiun Kelas ‘Bawah’
Hahaha! Ga ngerti juga kenapa harus dinamakan stasiun kelas ‘bawah’. Besar kemungkinan karena keberadaan stasiun tugu yang notabene Tatsaka, Argo Cs dsb sering ‘ngapel’ serta mengusung bendera executive juga bisnis.
Siang menjelang sore itu aku melihat dua temanku, si adit ‘monyet’ dan ganjar ‘sumitro’ bak abang – abang preman, menunggu di luar stasiun lempuyangan. Sesaat kemudian, kulihat Wina (temanku sekaligus ibuku di luar rumah, wak3) dan Aya (temanku sekaligus ibu keduaku di luar rumah!!). Muka kedua temanku itu sedikit mengerut, rupanya masih ada 3 teman lagi yang belum datang.
Si bocah berkepala botak itupun datang juga, hahaha!! Sorry Sun! Ini dia si Sunu. Kayaknya dia yang paling rapi surapih. Dan kemudiaaannn disusul oleh preman u’un lemot, Yogi!! Seperti biasa ada aja rokok di tangannya. And finally, temen cewe ter-tengilku, si Madith yang kayaknya lagi diceramahin her daddy mungkin lagi dibilangin gini, ‘Anakku yang tengil, jangan terlalu tengil ya disana.’ Hahahhaha!! Nyatanya juga teteup ja tengil…
Kereta yang entah kenapa dinamakan Legawa, dugaan sok tahuku karena penumpang menunggu kereta  ini harus punya kesabaran yang ngga mudah karatan dan anti malu kayak 8 orang bodoh ini (sempat – sempatnya foto di rel).
Yuhuy!!! Adit, Ganjar, Madith, Wina, Aya, Sunu, Yogi, dan aku menunggang Legawa menuju kampung eh kota Wina tercinta yaitu PURWOKERTO!!!

Legawa yang Ga Legawa
Kereta ekonomi ini memang punya nama yang aneh. Selain hobinya yang nelat, juga karena di dalamnya ga sesuai banget dengan namanya yang artinya ‘lapang dada’ karena penuh sesak. Mungkin lebih tepat kalau penumpangnya harus punya sifat legawa untuk nerima kondisi crowded kayak gini. Tapi ni pengalaman yang bernilai banget, karena bisa menikmati berbagai macam karakter orang dari kapten (yang ganteng itu) sampai cleaning service (yang bilang di gerbong belakang bisa untuk futsal-an), dari penumpang (yang bentuknya macam - macam) sampai penjaja makanan (hidup mie!!), dari orang tua ‘bangkotan’ sampai anak kecil ‘umbelen’. Luar biasa!!! Setelah berdiri sebentar, 8 gelandangan melewati gerbong – gerbong untuk mencari tempat futsal-an yang dibilang si cleaning service itu. Bisa menemukan tempat itu kah?? Ya jelas tidak, tapi lumayan untuk bisa memboikot 3 pasang kursi untuk rombongan ranger ini (udah kayak power ranger aja).

Rumah Wina atau Kantor Kimia Farma?
Setelah di jemput dengan 2 mobil, the rangers sampai juga di rumah wina yang so blue (cat rumah biru semua). Aku juga bingung, ni kantor apa rumah, ni rumah apa kantor. Tapi yang jelas, ga sempit dan ga luas tapi nyaman!  Misalnya diantara ranger ni ada yang pingsan juga udah disiapin banyak infuse di belakang. Busettt, rumah kok di belakangnya numpuk obat berdus-dus gitu. Alamakk!! Pantesan Wina makmur gitu ya. Hihihi peace win!


Menunggu Pagi di Purwokerto.
Iseng campur ga ada kerjaan! Hal itu yang membawa the ranger jalan – jalan keliling kota (nyaris ke batur raden tapi tutup) hingga alun – alun kota yang kayak lapangan bola stadion. Hijauuu!!!
Setelah sempat diganggu orang yang entah laki atau perempuan, akhirnya penghabisan waktu digunakan untuk foto – foto!! Alamakkk!!!
Di tengah kesibukan itu, kami mendengar anggota ranger yang lain telah tiba di Purwokerto. Dan setelah sampai di rumah, anggota ranger yang baru datang itu pun telah tepar dalam posisinya masing – masing.
Yoelius, Gandhi, Natal, Tita dan Linda…
Welcome for all of you!!



Wake up!
Setelah bangun pagi, makan pagi, nge-jamm sesaat (walaupun aku jadi keyboardist yang ga jelas diiringi Yogi sebagai guitarist ditambah Adit sebagai dokumentator dan rekan ranger lain sebagai penyemarak dan juga Gandhi dan Ganjar sebagai disturber).
Um… ada part yang ga perlu dijelasin lebih jauh, yang penting tahu – tahu kami semua sudah ada di 2 mobil dan bergerak menuju kebun strowberi!!!








Kebun Strowberi yang tak-Berstrowberi!!
Langit sepertinya tidak terlalu bersahabat karena dengan senang hati mengirimkan kepada The Rangers yaitu hujan rintik – rintik plus rintik. Setelah transit di sebuah gubuk yang entak apa namanya, juga berfoto bersama, kami pun bergerak menuju ke lokasi lain.


Sungai!!!
Walaupun indah, hanya beberapa ranger yang turun, sementara ranger yang lain, setia menunggu di atas. Aku sendiri tidak turun karena ehem… new shoes… alias takut ni sepatu basah juga karena kabut mulai turun.

Namun akhirnya The Rangers kembali berkumpul di jembatan sungai. Pemandangan kabut yang sudah mulai datang tetap mendorong kami semua untuk ber-pose di depan kamera. Ada accident kecil saat Adit yang sedang sibuk mengatur kamera di atas tripod-nya, kemudian tiba - tiba berdiri, padahal dia tidak sadar masih mengalungkan kamera di leher, alhasil tu kamera+tripodnya terbawa bersamaan. Emang seperti itu nasib orang seculun Adit, harap maklum. wkwk! Menemukan ratusan pohon seolah menjadi harta yang sungguh menyenangkan. Dikarenakan mata yang terbiasa melihat layar komputer, atau melihat bangunan Fisip UAJY selama bertahun – tahun, atau melihat muka – muka culun rekan – rekan lain atau hanya melihat pasangannya terus. Hahaha!! Ga mutu banget sih alasannya, pokoknya pada intinya The Rangers senang melihat ratusan pohon dan kemudian mengabadikannya dengan tawa.




Pose - pose narsis dan sok macho pun berkumandang. Kabut yang kebal - kebul seperti ga menyurutkan keinginan kami semua untuk tetap mengisi penuh kartu memori milik adit.  
Cherss up!!










Si Suster Bude
The Rangers pun bertobat dengan mengikuti misa (kecuali Adit yang lagi males, Yogi plus Sunu yang masjidaholic). Misa ini untuk memperingati anniversary budhe dari Wina yang adalah seorang suster. Suster yang lucu! Selamat meneruskan karya sus!! Moga aka nada 25 tahun lagi dan kelipatannya.
Kantor eh rumah Wina pun kebanjiran orang – orang yang ingin bertemu dengan suster untuk mengucapkan selamat.
Dan The Rangers lebih berbahagia lagi karena makanannya banyak!!!
Hwaaaaa two thumbs up for soup! Semuanya enak dan nambah!! Dasar The Rangers emang kaum Hobo!

Go Home!!
Finally, karena masih banyak pekerjaan yang ada di Jogja ditambah tidak enak membuat orang tua Wina repot (aku sendiri disuruh pulang ibu karena Bang Surya, abang keduaku, pengen ketemu aku dan sudah harus pulang di hari yang sama), kesemua excuse itu di-mix dan membentuk kesepakatan pulang.
Wooyyy Legawa!!! Pulangkan kami ya…
Suasana Legawa tidak se’heboh’ biasanya, mungkin dikarenakan Legawa pertama berangkat dari stasiun ini (maklum, jam 6 pagi).






Stasiun Kelas ‘Bawah’ lagi
Hwaaa,,, JOGJA!!! Baru ditinggal 3 hari sudah kangen ni kota.
Dengan muka yang eneg dan perut yang eneg kami membuat foto bareng yang eneg tapi hasilnya bagus kok…!!!


Love u all!! Pengalaman yang berharga…
The Rangers!!! Gogogo!!!


(Photographer : Rahaditya Adi Nugraha, Editor Foto : Yoelius Marindha, Maria Nari Gunita)

13 Fakta Kutemukan di Jakarta tahun 2009

(Ini koleksi pikiran di tahun 2009)

Ada banyak hal aneh yang bisa tumbuh subur di ladang ibukota yang sama sekali ga subur...
fakta-fakta penting yang kutemui :
  1. Untuk skala 1 mpe 10, wajah ribuan mungkin mpe jutaan karyawan yang bertebaran, mereka dapet angka 10 untuk muka yang abstrak... alias muke cape, berkerut ga karuan, jalan cepet amat dan parahnya lagi... baju mereka modelny koq bisa sama gitu ya... kayak liet zombie... terutama di pukul 7 malemm...
  2. Salut buat jalan berderet di Sudirman dan daerah lain, yang selalu sukses bikin orang olah raga siang malem naik turun tangga puluhan meter cuma buat nyebrang ke seberang jalan yang ga ada 'seisepan' rokok... bravo busway!!! luv u trans jak!!
  3. Bukan cuma macet yang bikin orang kelamaan di jalann... tapi karena orang musti muterrrr jaooooohhhhhh ke jalan Z padahal jalan B nya cuma tinggal seiprit di seberangggg.... ruarrrr biassaaaa...!!!
  4. Otak-otak rasany koq kayak tempura ya??? ato emang sama??? (muke confuse)
  5. Ternyata logo BNI yang warna orange tu, ada keukir tulisan 46 yang artinya tu bank uda nongol dari taun 46... makany aku heran koq namanya BNI 46, aq pikir BNI di Jakarta ada berapa mpe gedungnya dinamain atu-atu gitu, ehh ternyata namanya emang ada 46 nya... (moga ni fakta bener soalnya diambil dari sumber terpercaya yang idupnya di belakang wisma BNI 46 persisss...)
  6. Ternyata di Jakarta, aku ga bisa ngomong lancar ma tukang-tukang jualan, krn ternyata aku ga bisa bebas gunain kata 'mas' dan tentunya aku ga ngerti apa'an tu 'nopek-gopek dan antek-antekny'... Alhasil, dumi lah yang jadi juru bicara kepresidenan bwat sementara... anccurrr...
  7. Tahu di Ibukota ga ada isinya...
  8. Mie Ayam di pinggir jalan, pake stereofoam??? maklumlah, di Jogja senjata nya khan plastikkk...
  9. Ada Cristiano Ronaldo di Busway... ga percaya de... emang... tapi mukanya miripp... suerrr....
  10. Aku baru tahu, ternyata mall-mall di ibukota punya karakter berdasarkan harga aja... itupun harganya mirip-mirip... di sini mall uda kayak warteg... ada dimana-mana... semuanyaa mirippppp.... kecuali Grand Indonesia yang kayak miniatur duniaaa...
  11. Bajaj ternyata semahal taksi??? whatttss???
  12. Ternyata suasana di MONAS kayak di bunderan UGM lagi Sunday Morning-an, bedanya cuma kalo di UGM ga ada emas ber-ton ton jaaa... adanya cuma ruang nikahan yang namany graha sabha...
  13. Yang paling anehh yaitu... aku koq ga nemuin copet ya di sini ya... padahal makhuk Tuhan yang paling licik tu yang aku kira akan banyak aku temuin di sini... ternyata ga da sama sekali... (ga ngarepp juga sihhh...)
ini baru beberapa hari di sanaa... coba bayangin apa yang aku temuin klo aku tahunan di sana...
(mungkin aku uda bisa ngobrooolll ma tukang jualan di sana... dan mukaku uda kayak zombie beredar...)
tapii...


thanks to :
Jesus, for all...
Dumi, Sahabat terbaik yang menemaniku membuat jejak-jejak tipis di ibukota...
Cement, untuk Cinta Bawel yang ngangenin...
Trans Jak dan Busway yang bantu aku berlari...
Ibu Kozt Dumi, buat tampungan gelandangan ini...
Monas-London School-Grand Indonesia-Blok M-Semanggi dll, untuk lokasi terbaiknya...
Tatsaka, yang uda nemenin gelandangan sendirian mpe Jogja...
Wina-Julius-Ganjar dan temen2 lain yang uda mw bales sms q yang ga penting gara2 nyengoohhh di gerbongg...
Bapak-bapak aneh di samping, yang setia untuk tidur...

Ruang Kenikmatanku


Hari ini aku merasa diajari banyak hal…
Langkahku turun dari mobil langsung disambut gundukan tanah liat dan batu gamping kecil yang begitu masa bodoh dengan sepatu tinggiku yang harus bermuka cokelat,
Nuansa ‘kawinan’ begitu kental menyapaku karena kulihat hiasan ronce tersebar dimana – mana… Bangunan yang lebih layak disebut pendapa ini seolah berubah dari area yang begitu dingin, menjadi penuh kehangatan dengan sorak – sorai yang muncul dari ratusan lilin – lilin seharga 500 perak per batang… 500 perak yang memberikan warna merah kuning yang begitu berarti…
Aku memandang berkeliling dan kulihat aroma retro, vintage, jadul, konvensional, kesederhanaan seolah berbaur menjadi satu mendukung arti ‘unik’. Senyumku berulangkali tersungging, tiap kali kudengar alunan gendang yang mengentak dan selalu diakhiri suara gong yang mantap. Bahkan, sempat aku tertawa tertahan, tiap kali sang pemimpin koor memberikan aba – aba yang nyaris mirip rapper – rapper kawakan. Si penabuh gendang dan ibu pemimpin koor memang dua tokoh yang mungkin susah kulupakan. Keduanya memberikan aroma yang meramu tawa dan khidmat bercampur menjadi satu.
Namun jujur, aku menikmati semua ini. Terlepas dari bahasa yang tidak terlalu aku kuasai, 
doa – doa yang terlalu banyak dinyanyikan sekaligus terlalu ber-tempo pelan, 
juga harus berdiri di atas sepatu tinggi dengan posisi yang itu – itu saja.
Ditambah suara gemercit sepatu anak kecil, suara tangisan plus tawa mereka yang bergantian melawan mantapnya suara koor.
Pada akhirnya, aku tetap harus mengakui, aku menikmati semuanya ini… (selain karena, untuk pertama kalinya, rasa kantuk tidak menyapaku selama 2 jam itu… hehe)
Dan, 
Untuk kematian dan kebangkitan yang membanggakan…
Selamat Paskah teman - teman!!

(Paskah 2010)

2010/06/18

Band Ungu dan Parodi Brand Religion

Kalau boleh jujur (karena aku sering bohong), sebenarnya ada sisi subyektifitas saat aku nulis deretan huruf ini yaitu sentimen ku terhadap band yang mengatasnamakan sebuah warna yang untungnya sudah duluan popular sebagai warna janda, sebut saja Ungu.  Liriknya yang “katanya” romantic, nuansa melancholic,  ramuan mellow bercampur dengan rangkaian berima seolah bergabung mencetak lagu – lagu hits seperti Demi Waktu, Kuingin Selamanya hingga Cinta Gila. Mungkin akan sedikit rumit jika mengkaitkannya sebagai lagu indusrialis yang lekat dengan budaya populer  atau membandingkannya dengan lagu – lagu indie yang memperkenalkan deretan lagu karya Efek Rumah Kaca, The Sigit dan ribuan band indie lainnya.
Aku sengaja menyinggung band Ungu karena melihat fenomena unik yang kutemui di sebuah terminal kawasan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku melihat lalu tersenyum dalam hati kemudian meraba otakku untuk mengingat sesuatu yaitu rangkaian makna yang tersimpan dalam dua kata saling mengait yaitu “Brand Religion”.
Apa yang unik? Apa yang kulihat? Apa yang membuatku tersenyum?
Jika kamu berjalan keluar terminal, kamu akan melihat deretan warung atau toko yang menjual aneka aksesoris, makanan (um… coba sate kelincinya, yummy…), alat rumah tangga hingga pulsa. Dari puluhan penjaja itu, ada satu toko kecil yang menjual pulsa dengan nama toko yang sungguh menarik yaitu UNGU CELL. Uniknya lagi, pemilihan font dan warna yang dipakai sama persis dengan logo yang dimiliki band Ungu. Sebagai catatan, warna ungu yang terlihat lebih muda, entah itu dikarenakan salah memilih warna atau memang warna ungunya sudah memudar.
Mengapa unik? Aku tidak tahu, apa yang mendasari owner UNGU CELL ini untuk meminjam nama yang boleh dibilang lumayan besar. Alasan pertama yang terlintas di otak, si owner adalah salah satu fans berat band Ungu atau seseorang di dekatnya suka band ini, entah suaminya, entah istrinya, entah anaknya. Inilah sebuah brand religion dengan kasus yang sungguh sederhana. Ungu dapat disebut sebagai sebuah brand dan karena antusiasme si owner untuk menamai tokonya ini menunjukkan band Ungu sudah menjadi Brand Religion dengan caranya sendiri dan juga dengan target tersendiri. Walaupun terkesan norak karena mentah – mentah memakai nama band dan memajang namanya sebagai garda terdepan, boleh diakui ada kecerdikan tersendiri dari si pemberi nama. Nama band ini sudah cukup populer di berbagai kalangan sehingga pemilihan nama ini akan lebih mudah diingat oleh pelanggan toko atau orang yang sekedar lewat seperti aku yang hingga kini masih belum bisa melupakan nama toko ini. Ini dikarenakan aku tidak pernah memperhatikan nama toko penjual pulsa dimanapun juga dan untuk pertama kalinya nama UNGU CELL menjadi satu – satunya toko penjual pulsa yang mampir di otak sebagai top of mind.
Good job! Semoga ini toko kian berkembang walaupun nama Ungu mungkin akan turun. 
Selamat tolol dan selamat cerdik untuk si owner!

(memori Kaliurang – 03 Juni 2010)